Cara Mengatasi Menstruasi yang Tidak Berhenti: Panduan Lengkap

Menstruasi yang tidak berhenti dapat menjadi masalah yang mengkhawatirkan bagi banyak wanita. Meskipun menstruasi adalah bagian alami dari siklus reproduksi, ada saat-saat di mana durasi atau intensitasnya dapat menjadi perhatian.

Artikel ini akan membahas penyebab menstruasi yang tidak berhenti dan memberikan panduan lengkap tentang cara mengatasi menstruasi yang tidak berhenti dengan bijak.

Penyebab Menstruasi yang Tidak Berhenti

Sebelum kita membahas cara mengatasi menstruasi yang tidak berhenti, penting untuk memahami beberapa penyebab yang mungkin menyebabkan masalah ini. Beberapa penyebab umum meliputi:

  1. Gangguan Hormonal: Ketidakseimbangan hormon, terutama hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron, dapat mempengaruhi siklus menstruasi.
  2. Polip Rahim atau Fibroid: Adanya polip rahim atau fibroid dapat memengaruhi aliran darah dan menyebabkan perdarahan yang berlebihan.
  3. Penyakit Rahim atau Ovarium: Beberapa penyakit seperti endometriosis atau kista ovarium dapat memengaruhi siklus menstruasi.
  4. Efek Samping Obat: Beberapa obat, terutama yang mempengaruhi koagulasi darah, dapat menyebabkan menstruasi yang lebih lama atau lebih berat.
  5. IUD atau Kontrasepsi Hormonal: Pemakaian alat kontrasepsi intrauterin (IUD) atau kontrasepsi hormonal tertentu dapat menyebabkan perubahan dalam pola menstruasi.

Cara Mengatasi Menstruasi yang Tidak Berhenti

Berikut cara mengatasi menstruasi yang tidak berhenti:

  1. Konsultasi dengan Dokter

Jika Anda mengalami menstruasi yang tidak berhenti, langkah pertama yang paling bijaksana adalah berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan dapat menilai gejala, melakukan pemeriksaan fisik, dan mungkin meresepkan tes atau pemindaian tambahan untuk menentukan penyebabnya.

  1. Pemantauan Siklus Menstruasi

Catat siklus menstruasi Anda, termasuk lamanya dan seberapa berat aliran darahnya. Ini dapat memberikan informasi berharga kepada dokter untuk membantu dalam diagnosis.

  1. Penggunaan Obat Pengontrol Menstruasi

Dalam beberapa kasus, dokter dapat meresepkan obat pengontrol menstruasi, seperti kontrasepsi hormonal atau obat hemostatik, untuk mengontrol perdarahan.

  1. Prosedur Medis

Untuk kondisi yang lebih serius, prosedur medis seperti ablasio endometrium atau pengangkatan polip atau fibroid mungkin diperlukan.

  1. Pemilihan Kontrasepsi yang Sesuai

Jika masalah disebabkan oleh kontrasepsi hormonal atau IUD, dokter dapat membantu Anda memilih metode kontrasepsi yang lebih sesuai.

  1. Perubahan Gaya Hidup

Beberapa perubahan gaya hidup dapat membantu mengatasi menstruasi yang tidak berhenti, seperti mengelola stres, menjaga pola makan yang sehat, dan berolahraga secara teratur.

  1. Penggunaan Pembeku Darah

Jika menstruasi yang tidak berhenti disebabkan oleh gangguan pembekuan darah, dokter dapat meresepkan obat pembeku darah untuk membantu mengontrol perdarahan.

Tips dan Tindakan Pengelolaan Selama Menstruasi

  1. Penggunaan Pembalut atau Kapas

Menggunakan pembalut atau kapas yang lebih sering selama menstruasi yang berkepanjangan dapat membantu mencegah risiko iritasi atau infeksi.

  1. Konsumsi Makanan yang Kaya Zat Besi

Jika menstruasi yang berkepanjangan menyebabkan kehilangan darah yang signifikan, konsumsi makanan yang kaya zat besi dapat membantu mencegah anemia.

  1. Istirahat Cukup

Memberikan tubuh istirahat yang cukup selama menstruasi dapat membantu dalam proses penyembuhan dan pemulihan.

  1. Pijat dan Relaksasi

Pijatan ringan atau teknik relaksasi seperti yoga dapat membantu mengurangi stres dan mengelola ketidaknyamanan selama menstruasi.

Kapan Harus Menghubungi Dokter Kembali?

Jika menstruasi yang tidak berhenti terus berlanjut atau memburuk setelah mengikuti langkah-langkah pengelolaan, segera hubungi dokter. Ini mungkin menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut atau penyesuaian dalam rencana perawatan.

Kesimpulan

Menstruasi yang tidak berhenti bisa menjadi pengalaman yang melelahkan dan mengkhawatirkan. Dengan mengambil langkah-langkah yang tepat, seperti berkonsultasi dengan dokter, menjaga catatan siklus menstruasi, dan mengikuti tindakan pengelolaan yang disarankan, wanita dapat mengatasi masalah ini dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Mengenal Penggunaan Acarbose 50 mg untuk Penderita Diabetes

Acarbose 50 mg adalah obat yang digunakan untuk penderita diabetes melitus tipe 2. Sama seperti obat lainnya, obat ini tidak boleh dikonsumsi dengan sembarangan. Pasien harus memperhatikan anjuran penggunaan obat dari dokter agar efek yang dihasilkan dapat tepat sasaran.

Sebagai informasi awal, berikut ini adalah penggunaan acarbose 50 mg yang tepat untuk penderita diabetes. Silakan menyimaknya dengan baik!

Mengenal Obat Acarbose

Acarbose adalah obat yang digunakan untuk penderita diabetes tipe 2. Obat ini bekerja dengan cara memperlambat proses pencernaan dan penyerapan karbohidrat di usus, sehingga menyebabkan kadar gula darah berkurang.

Untuk mengobati diabetes tipe 2, acarbose bukanlah obat mandiri. Sering kali dokter akan ikut meresepkan metformin atau insulin dan menyarankan pasien untuk menjaga pola hidup serta memperbanyak olahraga.

Cara Menggunakan Acarbose untuk Penderita Diabetes

Sebelum menggunakan acarbose 50 mg, kenali dulu bagaimana caranya. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu kamu perhatikan dalam mengonsumsi acarbose:

  1. Mengetahui Dosis yang Dibutuhkan

Dosis acarbose bervariasi untuk setiap pasien. Namun, pada umumnya pasien dewasa yang baru mengonsumsi obat ini membutuhkan 50 mg sehari sekali.

Dosis tersebut dapat ditingkatkan jika dibutuhkan, yakni menjadi 50 mg 3 kali sehari. Jika dirasa pasien membutuhkan lebih banyak dosis dan bisa menoleransi responsnya, maka dosis acarbose dapat dinaikkan menjadi 100 mg hingga 200 mg 3 kali sehari.

  1. Mengetahui Cara Pakai Acarbose

Setelah mengetahui dosisnya, kamu juga perlu mengetahui cara pakainya.

Cara pakai tablet acarbose adalah diminum tiga kali sehari sebelum mulai makan. Kamu bisa mengonsumsinya dengan air putih, dikunyah, atau ditelan pada suapan pertama.

Ketika mengonsumsi acarbose, perhatikan aturan dan anjuran yang telah diberikan dokter dengan hati-hati. Biasanya, dokter akan menyarankan untuk minum obat di jam-jam yang sama dan dengan dosis yang tepat.

Apabila kamu lupa mengonsumsi acarbose, kamu bisa segera mengonsumsinya jika jarak waktu antara konsumsi acarbose tidak terlalu dekat. Namun apabila jaraknya sudah dekat, acarbose yang terlupa tidak perlu dikonsumsi lagi.

Acarbose perlu terus dikonsumsi, bahkan jika kamu merasa sehat. Kamu bisa berhenti mengonsumsinya apabila sudah mendapat sinyal persetujuan dari dokter.

Baca juga: Meprothion obat apa?

  1. Tidak Mengonsumsi Acarbose dengan Obat Lain Tanpa Saran Dokter

Kamu tidak boleh mengombinasikan acarbose dengan obat lainnya tanpa sepengetahuan dokter. Sebab bila obat ini dikonsumsi obat lain, akan ada efek samping seperti berikut ini:

  • Konsumsi bersamaan dengan lomitapide atau teriflunomide bisa memunculkan risiko kerusakan hati.
  • Konsumsi bersamaan dengan obat adsorben saluran pencernaan atau obat digestan bisa menurunkan efek acarbose.
  • Konsumsi bersamaan dengan gatifloxacin bisa menyebabkan perubahan drastis kadar gula darah.
  • Konsumsi bersamaan dengan neomycin atau colestyramine bisa meningkatkan efek acarbose.
  1. Mengetahui Kondisi Diri Sebelum Mengonsumsi Acarbose

Ketika pertama kali mengunjungi dokter, kamu perlu jujur dengan kondisi tubuhmu. Kamu perlu memberi tahu dokter apabila memiliki kondisi berikut ini:

  • Memiliki riwayat alergi terhadap obat-obatan tertentu.
  • Sedang hamil, menyusui, atau berniat hamil.
  • Sedang atau pernah mengalami penyakit sirosis hati, radang usus, ataupun tukak usus.
  • Sedang atau pernah mengalami penyakit ginjal, hernia, ataupun gangguan lambung.
  • Sedang mengalami demam, cedera, atau baru menjalani operasi.
  • Sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu.
  1. Mengetahui Larangan Konsumsi Acarbose

Di sisi lainnya, kamu juga perlu mengetahui larangan dalam mengonsumsi acarbose 50 mg. Hal ini penting agar tidak ada masalah yang terjadi dalam mengonsumsi acarbose.

Larangan ketika mengonsumsi acarbose adalah larangan minum minuman beralkohol karena bisa menyebabkan hipoglikemia dan larangan mengemudi.

  1. Mengetahui Efek Samping Acarbose

Terakhir, mengetahui efek samping acarbose juga sangat penting untukmu. Oleh karena itu, berikut ini adalah efek samping yang bisa ditimbulkan dalam mengonsumsi acarbose:

  • Mengalami perut kembung, sakit perut, dan sering buang angin.
  • Mengalami diare ringan.
  • Muncul ruam dan gatal-gatal pada kulit.
  • Muncul reaksi alergi seperti sesak napas serta pembengkakan bibir dan lidah.
  • Mengalami konstipasi, sakit perut, dan diare yang parah.
  • Mengalami pendarahan melalui hidung, mulut, dubur, atau vagina.
  • Kulit sering mengalami memar atau berdarah.
  • Muncul gangguan pada fungsi hati.

Demikian penjelasan mengenai apa itu acarbose 50 mg dan cara menggunakannya. Semoga setelah ini kamu bisa menggunakan obat ini dengan bijak dan tepat. Semoga cepat sembuh!

Perkembangan Bayi 3 Bulan yang Ibu Wajib Tahu!

Memiliki buah hati merupakan sebuah kebahagiaan sekaligus tantangan untuk orang tua. Tumbuh kembang bayi sangat pesat, terutama di 3 bulan pertamanya. Perkembangan bayi 3 bulan yang normal bisa dilihat dari beberapa indikator. 

Umumnya, bayi akan mengalami peningkatan pada inderanya, sistem motorik, dan sosial. Bayi mulai bisa melihat dengan lebih jelas, mengekspresikan perasaan dengan tersenyum atau sedih, mencium, dan menyentuh benda dengan lebih baik. 

Apa Saja Perkembangan Bayi 3 Bulan? 

Bayi 3 bulan mengalami peningkatan dalam konsumsi susu. Oleh sebab itu, pertumbuhannya dapat dilihat dari kenaikan berat dan panjang tubuh.  

Bayi 3 bulan memiliki berat badan antara 5,8 kg – 6,4 kg dan panjang 55 – 60 cm. Jika berat badan bayi atau panjang badannya sama sekali tidak bertambah dari bulan sebelumnya, bisa jadi ada masalah dengan pertumbuhannya. 

Di usianya yang memasuki 3 bulan, perkembangan saraf bayi menjadi lebih matang. Hal ini mempengaruhi waktu tidurnya di mana bayi bisa tidur nyenyak di malam hari antara 6 hingga 7 jam. 

Perkembangan Motorik 

Di usia ini, otot tubuh bayi menjadi lebih kuat, sehingga bayi mampu mengontrol dan mengangkat kepala serta dada ketika dalam posisi tengkurap. Berikut ini ada beberapa ciri-ciri peningkatan kemampuan motorik bayi yang wajib diperhatikan: 

  • Bayi mampu mengangkat kepala dan mengontrolnya supaya tetap tegak
  • Mampu mengangkat dada dan menahannya dengan tangan ketika sedang tengkurap
  • Bayi mampu menggenggam dan meraih mainan atau benda di sekitarnya 
  • Bayi mulai suka memasukkan tangannya ke dalam mulut
  • Bayi mampu menggerakkan tangannya seperti membuka dan menutup telapak tangan 
  • Bayi mampu menggerakkan kakinya lebih lincah dan suka menendang terutama saat berbaring

Siapkan waktu dan tempat yang nyaman untuk bermain dengan bayi. Kamu bisa melakukan tummy time dengan menyiapkan berbagai jenis mainan menarik di depannya. Hal ini akan melatih koordinasi bayi dalam menggunakan anggota tubuhnya, seperti tangan, kaki, dan mata supaya bisa meraih mainan. 

Perkembangan Sensorik 

Perkembangan bayi 3 bulan selanjutnya dapat dilihat dari peningkatan indera terutama indera penglihatan dan pendengaran. Bayi yang memiliki peningkatan pada sensorinya dapat menunjukkan tanda ingin menyentuh atau meraih benda-benda di sekitarnya. 

Ciri-ciri kemampuan sensorik bayi meningkat: 

  • Mampu mengenali wajah orang terutama ibu 
  • Mulai tertarik dengan bayangannya sendiri di cermin 
  • Bayi tersenyum ketika melihat wajah orang tuanya atau ketika sedang diajak bermain 
  • Bayi dapat mengikuti mainan atau benda yang bergerak 
  • Merasakan tekstur dari benda yang disentuh 
  • Mengenali suara dan menunjukkan respons tertentu 

Kamu juga bisa melakukan beberapa cara menstimulasi perkembangan bayi 3 bulan, seperti memberikan mainan dengan berbagai warna dan juga tekstur untuk menunjang tumbuh kembang bayi. Pastikan mainan yang diberikan aman dan bersih. 

Perkembangan Komunikasi dan Sosial 

Menangis bukan satu-satunya cara bayi berkomunikasi. Saat memasuki usia 3 bulan, bayi sudah bisa membuat suara seperti “oh” dan “ah”. Selain itu, bayi juga bisa mulai tersenyum ketika diajak bersenda gurau. Berikut ini ada beberapa ciri-ciri perkembangan komunikasi bayi yang baik: 

  • Bayi menikmati waktu bersendau gurau dengan menunjukkan respons tersenyum atau menangis ketika sesi ini berakhir.
  • Bayi mulai bisa meniru gerakan atau ekspresi wajah yang ditunjukkan orang lain
  • Bayi dapat menangkap suara dan mengeluarkan suara, seperti mengoceh dan bergumam 
  • Menciptakan kontak mata dengan orang yang mengajaknya berbicara 
  • Menolehkan kepala ke arah sumber suara 

Sering-sering melakukan komunikasi kepada bayi ketika mengganti popok, menyusui, atau memandikannya. Hal ini bisa meningkatkan kemampuan bayi, walaupun pada usia ini bayi lebih jarang menangis dan lebih sering melakukan interaksi dengan orang lain. Ketika bayi menangis, mungkin ia merasa lapar, sakit, atau tidak nyaman. 

Hal yang Harus Diwaspadai pada Perkembangan Bayi 3 Bulan 

Kecepatan pertumbuhan setiap bayi tidaklah sama, tetapi indikator yang telah disebutkan dapat menjadi acuan untuk mengetahui perkembangan bayi 3 bulan yang sehat.

Kamu juga harus memperhatikan beberapa tanda yang tidak boleh disepelekan. Jika bayi kamu memiliki beberapa tanda di bawah ini, sebaiknya segera konsultasikan pada dokter spesialis anak: 

  • Pandangan mata bayi tidak bisa mengikuti arah benda yang bergerak 
  • Bayi tidak bisa menggenggam benda 
  • Bayi tidak merespons ketika diajak bermain 
  • Bayi tidak merespons suara yang keras 
  • Bayi tidak mampu tersenyum ketika melihat wajah orang tuanya atau ketika diajak berkomunikasi 

Usahakan untuk selalu mendampingi anak di setiap tahap tumbuh kembangnya terutama ketika masuk fase perkembangan bayi 3 bulan. Tidak hanya soal kesehatan fisik kesehatan mental anak juga turut menjadi perhatian setiap orang tu. Oleh sebab itu, berikan kasih sayang dan perhatian yang cukup, supaya anak bisa tumbuh dengan baik. 

Kenali Resiko Pembersih Kewanitaan yang Berbahaya Saat Dipakai

Memiliki Miss V yang bersih dan sehat, tentu menjadi keinginan bagi setiap wanita. Pemakaian sabun khusus pembersih daerah kewanitaan merupakan salah satu upaya yang bisa kamu lakukan agar organ atau daerah intim pada wanita bisa menjadi lebih bersih dan sehat. Namun, kamu juga harus memperhatikan dengan baik, karena ada banyak pembersih kewanitaan yang berbahaya saat dipakai untuk membersihkan area intim atau Miss V.

Bagi kamu yang ingin mengenal lebih jauh tentang pembersih kewanitaan yang memiliki kandungan membahayakan tersebut? kamu bisa menyimak dengan baik penjelasan yang tersaji dalam artikel berikut!

Mengetahui Daerah Kewanitaan yang Harus Dibersihkan

Sebelum mengenal pembersih kewanitaan yang berbahaya, hal terpenting bagi kamu yaitu harus mengetahui apa saja daerah kewanitaan yang harus dibersihkan. Miss V atau vagina memiliki keunikan yaitu mampu membersihkan diri sendiri dengan tanpa menggunakan pembersih kewanitaan yang dimasukan ke dalam vagina. 

Sementara vulva merupakan tempat yang bisa kamu gunakan sebagai pembersih dengan bantuan sabun maupun pembersih daerah kewanitaan.

Mengenal Bahaya dan Tidaknya Penggunaan Pembersih Kewanitaan

Kandungan dari produk pembersih kewanitaan yang bisa di dapatkan dengan mudah secara bebas, disadari atau tidak hal tersebut bisa menimbulkan dampak buruk, seperti mampu menghilangkan maupun menghancurkan mikroorganisme normal yang dimiliki oleh Miss V. 

Bakteri baik yang ada pada Miss V yaitu Lactobacillus Crispatus, yaitu bisa membantu untuk sistem reproduksi yang dimiliki wanita dengan menjaga produksi mukosa. Untuk itu, penting bagi kamu untuk memperhatikan daerah intim mana yang bisa dibersihkan dengan menggunakan pembersih kewanitaan.

Penggunaan pembersih kewanitaan yang berbahaya bisa memberikan efek samping pada vagina yaitu berubahnya sistem kekebalan yang dimilikinya, karena pH tinggi pada pembersih kewanitaan akan sangat berbahaya. Selain itu, efek samping lain yang bisa ditimbulkan yaitu, iritasi pada kulit vagina.

Efek Samping yang Ditimbulkan dari Pembersih Daerah Kewanitaan

Produk kebersihan kewanitaan yang digunakan disadari atau tidak hal tersebut bisa mempengaruhi pH yang dimiliki vagina. Penggunaan produk pembersih daerah kewanitaan juga bisa berpengaruh pada sistem kekebalan yang ada pada Miss V.

Selain efek samping diatas, sabun atau pembersih kewanitaan yang berbahaya setidaknya kamu juga harus lebih berhati-hati saat menggunakannya, agar tidak terjadi beberapa permasalahan seperti berikut:

1. Terjadinya penyakit pada panggul

Pemakaian pembersih kewanitaan bisa mengakibatkan rasa sakit yang terjadi pada panggul. Hal tersebut sebagai tanda adanya infeksi yang terdapat pada ovarium atau Rahim.

Masalah pada panggul tersebut disebabkan karena penggunaan sabun pembersih kewanitaan. Penyakit ini bisa dikenali apa seorang wanita akan mengalami demam yang cukup tinggi disertai dengan rasa sakit saat buang air kecil.

2.Terjadinya kelainan pada saat kehamilan

Resiko lainnya yang bisa kamu perhatikan dari penggunaan sabun pembersih daerah kewanitaan yaitu resiko terjadinya kelainan pada kehamilan cukup tinggi. Kelainan tersebut seperti embrio akan menempel di luar rahim

3. Rentan terjadi penyakit pada organ kewanitaan

Efek samping dari pembersih kewanitaan yang berbahaya yaitu akan membuat organ kewanitaan atau Miss V rentan terkena penyakit seksual berbahaya yang menular. Hal tersebut disebabkan karena bakteri baik yang terdapat pada vagina akan berkurang karena penggunaan sabun pembersih kewanitaan dengan pH yang cukup tinggi.

4. Terjadinya infeksi pada vagina

Bakteri baik yang ada pada vagina mampu melindungi tubuh dari infeksi. Namun, penggunaan sabun pembersih kewanitaan pada Miss V bisa mengurangi bakteri baik tersebut dengan kandungan warna maupun pewangi yang dimiliki.

Terganggunya kelembapan pada vagina

Sistem kelembapan yang ada pada daerah kewanitaan memiliki fungsi yaitu sebagai pengaman vagina dari bakteri jahat. Rasa sakit yang terjadi saat melakukan hubungan intim, disebabkan karena vagina yang tidak lagi lembap karena penggunaan sabun kewanitaan.

Produk pembersih kewanitaan yang berbahaya bisa kamu hindari, sebagai alternatif atau pilihan lainnya, kamu juga bisa menggunakan produk sabun atau pembersih kewanitaan yang tidak berasal dari kandungan bahan-bahan kimia.

Manfaat Vitamin C untuk Ibu Hamil

Vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air. Vitamin ini merupakan antioksidan kuat yang penting dan bermanfaat bagi tubuh, baik ketika kamu sedang hamil ataupun tidak hamil. Namun, kamu mungkin bertanya-tanya seberapa penting mengonsumsi vitamin C untuk ibu hamil. Jika kamu memiliki pertanyaan yang sama, simak penjelasannya di sini.

Manfaat Vitamin C untuk Ibu Hamil

Vitamin C juga biasa dikenal sebagai asam L-askorbat. Vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, baik ketika hamil maupun tidak hamil, ini memberi banyak manfaat penting bagi tubuh. Akan tetapi, tubuhmu memerlukan pasokan segar vitamin C dari makanan yang kamu konsumsi setiap.

Ibu hamil membutuhkan vitamin C untuk perbaikan jaringan tubuh sekaligus penyembuhan luka. Selain itu, vitamin C juga berperan penting dalam membantu perkembangan tulang dan gigi bayi secara maksimal.

Vitamin C untuk ibu hamil juga bermanfaat untuk membantu produksi kolagen tubuh, lho! Selain itu, ibu hamil yang rajin mengonsumsi vitamin ini juga akan meningkat kekebalan tubuhnya dan kemampuan tubuh untuk menyerap zat besi juga akan meningkat.

Beberapa studi menghubungkan kadar vitamin C dalam darah yang rendah selama masa kehamilan dengan kondisi preeklamsia. Preeklamsia sendiri merupakan kondisi tekanan darah yang meningkat dan adanya kelebihan protein dalam urine yang terjadi ketika usia kehamilan >20 minggu. Itulah sebabnya vitamin C untuk ibu hamil menjadi sangat penting.

Makanan Kaya Vitamin C untuk Wanita Hamil

Setelah mengetahui manfaat vitamin C untuk wanita hamil tersebut kamu mungkin bertanya-tanya berapa jumlah vitamin C yang perlu dikonsumsi secara rutin selama masa kehamilan. Wanita hamil yang berusia 19 tahun ke atas perlu untuk mengonsumsi sekitar 85 mg vitamin C setiap harinya.

Ada beberapa sumber makanan yang mengandung vitamin C tinggi yang bisa membantumu kenyang dan mengambil manfaat dari vitamin itu sendiri. Beberapa makanan tersebut adalah paprika merah (95 mg per cangkir mentah), jeruk (70 mg per buah sedang), kiwi (64 mg per buah sedang), brokoli (51 mg per cangkir dimasak), hingga stroberi (49 mg per cangkir irisan).

Vitamin C dikenal sebagai vitamin yang membantu tubuh menyerap zat besi dengan baik. Jadi, untuk memaksimalkan manfaat yang diserap oleh tubuh, kamu bisa mengonsumsi makanan yang kaya vitamin C bersamaan dengan makanan yang kaya akan zat besi, seperti ayam dengan paprika merah atau ikan dengan kubis Brussel.

Konsumsi vitamin C harianmu perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau ahli kesehatan berkualitas di lingkunganmu, ya. Hal ini dilakukan untuk mencegah berbagai risiko yang tidak diinginkan sekaligus untuk memaksimalkan penyerapan nutrisi yang maksimal pada ibu hamil.

Apakah Ibu Hamil Bisa Mengonsumsi Suplemen Vitamin C?

Kamu mungkin ingin mengonsumsi suplemen vitamin C selama hamil untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan menghindari flu. Namun, di sisi lain, kamu mungkin juga bertanya-tanya apakah bisa dan aman mengonsumsi suplemen vitamin C saat kehamilan.

Dikutip dari What to Expect, penelitian terbaru mengenai konsumsi vitamin C saat hamil beragam dan terbatas. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) tidak merekomendasikan ibu hamil menambahkan suplemen vitam C untuk konsumsi harian.

Vitamin C untuk ibu hamil seharusnya bisa tercukupi melalui konsumsi makanan sehat dan mengonsumsi vitamin prenatal dengan teratur. Sekali lagi, kamu tetap perlu untuk mengonsultasikan segala masalah kesehatan dan nutrisimu kepada dokter yang ahli di bidangnya.

Sumber:

https://www.whattoexpect.com/pregnancy/diet/vitamin-c-pregnancy/